Sabtu, 07 November 2015

KELUARGA ROMANTIS

๐Ÿ“ Pemateri: Ustzh. Dra. Indra Asih

๐Ÿ“‹ SUASANA ROMANTIS DALAM KELUARGA RASULULLAH SAW

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Suasana harmonis sangat ditentukan dengan kerja sama yang bagus antara suami istri dalam menciptakan suasana yang kondusif dan hangat, tidak membosankan, apalagi menjemukan. 


Rasulullah adalah sosok manusia yang paling sempurna akhlaknya di antara makhluk ciptaan Allah. Beliau merupakan sosok teladan terbaik dalam membina keluarga, sehingga patut dijadikan contoh bagi seluruh umat manusia di muka bumi ini.


Dalam sebuah riwayat disebutkan, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallรขhu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memukul siapapun dengan tangannya, tidak pada perempuan, tidak juga pada pembantu, kecuali perang di jalan Allah. 

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga ketika diperlakukan sahabatnya secara buruk tidak pernah membalas, kecuali kalau ada pelanggaran atas kehormatan Allah, maka ia akan membalas atas nama Allah. 

(HR Muslim).


Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling sibuk. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pemimpin pemerintahan negara, memimpin ribuan tentara, menghabiskan waktunya untuk agama, tetapi beliau tetap meluangkan waktu bersama istri dan keluarga, sesuai sabdanya: 

“Orang terbaik di antara kalian (suami) adalah yang terbaik bagi keluarganya dan akulah di antara kalian yang paling baik terhadap keluargaku, tidak memuliakan wanita kecuali orang yang hina,” 

(HR Ibnu Asakir dari Ali bin Abi Thalib).


Gambaran bagaimana suasana romantis beliau bersama istrinya nampak pada:


1⃣  Panggilan Kesayangan


Suasana mesra dalam rumah tangga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah ia memanggil ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dengan panggilan kesayangan dan mengabarkan kepadanya berita yang membuat perasaan ‘Asiyah menjadi  sangat bahagia. 


‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bercerita sebagai berikut, pada suatu hari Rasรปlullรขh berkata kepadanya.


ูŠَุง ุนَุงุฆِุดُ, ู‡َุฐَุง ุฌِุจْุฑِูŠْู„ُ ูŠُู‚ْุฑِุฆُูƒِ ุงู„ุณَّู„ุงَู…َ

“Wahai ‘Aisy Malaikat Jibril tadi menyampaikan salam buatmu.” 

(HR Muttafaqun ‘alaihi). 


Kita masih sering mendengar suami yang memanggil istrinya seenaknya saja. Bahkan ada yang memanggil istrinya dengan cacat dan kekurangannya. 


Kalau begitu sikap suami, mungkinkah keharmonisan dapat tercipta? 

Mungkinkah akan tumbuh rasa cinta istri kepada suami?


2⃣  Mandi Bersama


Suami-istri diperbolehkan mandi bersama dalam satu ruangan meski masing-masing saling melihat aurat pasangannya. 


Dalam sebuah riwayat disebutkan, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata;


ูƒُู†ْุชُ ุฃَุบْุชَุณِู„ُ ุฃَู†َุง ูˆَ ุฑَุณُูˆْู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ ู…ِู†ْ ุฅِู†َุงุกٍ ูˆَุงุญِุฏٍ


Aku biasa mandi berdua bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari satu bejana. (HR Bukhari).


Dalam redaksi yang lain disebutkan Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

“Aku pernah mandi berdua bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari satu wadah yang terletak di antara aku dan beliau. 

Tangan kami berebutan menciduk air yang ada di dalamnya. Beliau menang dalam perebutan itu, sampai aku katakan, “Sisakan untuk saya…Sisakan untuk saya…! 

Kami dalam keadaan junub.” (HR Bukhari Muslim)


3⃣   Makan dan Minum dalam Satu Tempat


 ‘Aisyah radhiallahu ‘anha menuturkan:


ูƒُู†ْุชُ ุฃَุดْุฑَุจُ ูˆَุฃَู†َุง ุญَุงุฆِุถٍ, ูَุฃُู†َุงูˆِู„ُู‡ُ ุงู„ู†َّุจِูŠَ ูَูŠَุถَุนُ ูَุงู‡ُ ุนَู„َู‰ ู…َูˆْุถِุนِ ูِูŠّ ูˆَ ุฃَุชَุนَุฑَّู‚ُ ุงู„ุนَุฑَู‚َ ูَูŠَุชَู†َุงูˆَู„ُู‡ُ ูˆَ ูŠَุถَุนُ ูَุงู‡ُ ูِูŠ ู…َูˆْุถِุนِ ูِูŠّ


“Suatu ketika aku minum, ketika itu aku sedang haidh, lantas aku memberikan gelasku kepada Rasulullah dan beliau meminumnya dari mulut gelas tempat aku minum. Dalam kesempatan lain aku memakan sepotong daging, lantas beliau mengambil potongan daging itu dan memakannya tepat di tempat aku memakannya.” (HR Muslim)


Begitulah kemesraan dapat tercipta, yaitu menciptakan rasa saling memiliki. Sepiring berdua, segelas berdua, makan berjama’ah serta beberapa hal lain yang dianjurkan oleh Rasulullah agar dilakukan bersama oleh suami istri! 


Dengan demikian akan tercipta rasa saling memahami satu sama lain. 


4⃣   Mencium Kening Istri


Dalam kesempatan lain Rasulullah saw tidak malu untuk bermesraan walaupun hanya sekedar mencium istri sebelum keluar rumah. 


Diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa ia berkata:


ุฃَู†َّ ุงู„ู†َّุจِูŠَ ู‚َุจَّู„َ ุงู…ْุฑَุฃَุฉً ู…ِู†ْ ู†ِุณَุงุฆِู‡ِ ุซُู…َّ ุฎَุฑَุฌَ ุฅِู„َู‰ ุงู„ุตَّู„ุงَุฉِ ูˆَู„َู…ْ ูŠَุชَูˆَุถَّุฃْ


"Sungguh Rasulullah pernah mencium salah seorang istri beliau baru kemudian berangkat menunaikan shalat tanpa memperbaharuhi wudhu” 

(HR Abu Dawud dan Tirmidzi)


Budaya mencium istri agaknya masih asing di tengah masyarakat kita, khususnya masyarakat timur. Bahkan masih banyak yang menggapnya tabu, mereka mengklaimnya sebagai budaya barat.


Tentu saja mencium istri yang kita maksud di sini bukanlah mencium istri di depan umum atau di hadapan orang banyak. Sebenarnya banyak sekali hikmah sering-sering mencium istri.


Sering kita lihat sepasang suami istri yang saling cuek. Kadang kala si suami pergi tanpa diketahui oleh istrinya kemana suaminya pergi. Buru-buru melepasnya dengan ciuman, menanyakan kemana perginya saja tidak sempat. Sang suami keburu pergi menghilang, kadang kala tanpa pamit dan tanpa salam!? Coba lihat bagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bergaul dengan istri-istri beliau. Sampai-sampai Rasulullah menyempatkan mencium istri beliau sebelum berangkat ke masjid.


5⃣  Beribadah Bersama


“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. kami tidak meminta rezqi kepadamu, kamilah yang memberi rezqi kepadamu dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa.” (QS Thaha [20]: 132). 


Dalam kesempatan lain, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan:


ูƒَุงู†َ ุงู„ู†َّุจِูŠُ ูŠُุตَู„ِّูŠ ูˆَุฃَู†َุง ุฑَุงู‚ِุฏَุฉٌ ู…ُุนْุชَุฑِุถَุฉٌ ุนَู„َู‰ ูِุฑَุงุดِู‡ِ, ูَุฅِุฐَุง ุฃَุฑَุงุฏَ ุฃَู†ْ ูŠُูˆุชِุฑَ ุฃَูŠْู‚َุธَู†ِูŠ


“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa mengerjakan shalat malam sementara aku tidur melintang di hadapan beliau. Beliau akan membangunkanku bila hendak mengerjakan shalat witir.” (HR Muttafaqun ‘alaihi)


Abu Hurairah radhiyallรขhu ‘anhu meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah bahwa beliau bersabda:


ุฑَุญِู…َ ุงู„ู„ู‡ُ ุฑَุฌُู„ุงً ู‚َุงู…َ ู…ِู†َ ุงู„ู„َّูŠْู„ِ ูَุตَู„َّู‰ ูˆَุฃَูŠْู‚َุธَ ุงู…ْุฑَุฃَุชَู‡ُ ูَุตَู„َّุชْ ูَุฅِู†ْ ุฃَุจَุชْ ู†َุถَุญَ ูِูŠ ูˆَุฌْู‡ِู‡َุง ุงู„ู…َุงุกَ,ุฑَุญِู…َ ุงู„ู„ู‡ُ ุงู…ْุฑَุฃَุฉً ู‚َุงู…َุชْ ู…ِู†َ ุงู„ู„َّูŠْู„ِ ูَุตَู„َّุชْ ูˆَุฃَูŠْู‚َุธَุชْ ุฒَูˆْุฌَู‡َุง ูَุตَู„َّู‰ ูَุฅِู†ْ ุฃَุจَู‰ ู†َุถَุญَุชْ ูِูŠ ูˆَุฌْู‡ِู‡ِ ุงู„ู…َุงุกَ

“Semoga Allah merahmati seorang suami yang bangun pada malam hari untuk mengerjakan shalat malam lalu membangunkan istrinya untuk shalat bersama. Bila si istri enggan, ia memercikkan air ke wajah istrinya (supaya bangun). Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati seorang istri yang bangun pada malam hari untuk mengerjakan shalat malam lalu membangunkan suaminya untuk shalat bersama. Bila si suami enggan, ia memercikkan air ke wajah suaminya (supaya bangun)"

 (HR Ahmad).


6⃣ Ramah dan Lembut

Masing-masing pihak suami istri harus bertekad untuk bersikap ramah dan lembut kepada pasangannya, bersenda gurau dengannya, dan bercanda dengannya. 


Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, meskipun mempunyai sifat keras dan tegas, mengatakan: “Sudah selayaknya seorang laki-laki menjadi seperti anak kecil di tengah keluarganya. Bila dia di tengah kaumnya, maka hendaknya dia menjadi seorang laki-laki.”


Aisyah radhiyallรขhu ‘anha menceritakan, “Adalah Rasulullah ketika bersama istri-istrinya, beliau adalah manusia lembut dan paling pemurah. Gampang tertawa dan gampang tersenyum.” (HR Ibnu Asakir)


Berlaku lemah lembutlah dalam menjalankan kehidupan supaya keharmonisan dapat tercapai dalam lingkungan keluarga, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, 

“Janganlah seorang mukmin (suami) membenci seorang mukminah (istri). Jika ia tidak menyukai salah satu akhlaknya, ia pasti ridha kepada akhlaknya yang lain.” 
(HR Muslim)


Sikap ramah dan lembut Rasulullah ditunjukkan kepada keluarganya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersenda gurau dengan istri dan anak-anaknya, menghibur, dan mema'afkan kesalahan mereka, menyebar senyum bahagia serta mengisi rumah mereka dengan hal-hal yang menyenangkan. 


Suatu ketika Anas bin Malik, pembantu beliau melukiskan keadaan keadaan beliau dengan mengatakan, “Aku telah melayani Rasulullah selama sepuluh tahun. Selama itu belum pernah beliau menegur atas apa yang aku lakukan, “Mengapa kamu tidak melakukan ini?” Beliau juga beliau belum pernah mengatakan kepadaku sesuatu yang belum aku kerjakan, “Mengapa kamu belum melakukan ini?”

Kasih sayang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah menembus hati orang-orang terdekat yang pernah berinteraksi dengan beliau, sehingga setiap jiwa selalu merindukannya.

Oleh karena itu, berlemah lembutlah pada keluarga supaya kehangatan dan kemesraan keluarga dapat tercapai sebagaimana keluarga Rasulullsh shallallahu alaihi wa sallam.


7⃣  Memberi Hadiah

Saling memberi hadiah diantara suami istri –terutama hadiah dari suami untuk istri- merupakan salah sebab makin mendalamnya rasa cinta di antara keduanya. 

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Hendaknya kalian sering memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR Bukhari)


Hadiah merupakan ekspresi kasih sayang dan mampu mencairkan kebekuan dan rutinitas hubungan manusia.


Hadiah tidak disyaratkan berupa barang-barang kepemilikan yang mahal lagi mewah karena tujuan dari hadiah pada awalnya adalah mengekspresikan kasih sayang dan kesatuan. Hal ini dapat diwujudkan dalam materi hadiah dengan nilai seberapa pun. Tapi jika hadiah tersebut berupa sesuatu yang mahal, maka itu akan menyebabkan kebahagiaan berlipat ganda dan kasih sayang makin bertambah.


8⃣  Memahami Kecemburuan Istri


Rasa cemburu dianggap sebagai watak dasar para wanita, tidak ada wanita yang selamat dari watak ini, bahkan para Ummahat al-Mukminin yang merupakan istri-istri Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. 

Aisyah selalu mencemburui Khadijah radhiyallahu ‘anha walaupun ia tidak pernah bertemu dengan Khadijah. 


Aisyah mengingkari pujian dan sanjungan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kepada Khadijah dengan mengatakan, 

“Allah telah memberikan ganti yang lebih baik darinya.” (Ini ucapan Aisyah radhiyallahu ‘anha. HR Bukhari dan Muslim)


Kecemburan yang baik memengaruhi hubungan mesra suami istri dengan syarat tidak berlebihan dalam cemburu, namun proporsional dan penuh pertimbangan.

Dengan demikian, cemburu menjadi indikator rasa cinta pasangan kepada pasangannya, disinilah cemburu itu akan nampak indah. Untuk itu suami harus bersikap proporsional dalam masalah ini, dan tidak boleh berburuk sangka, dan mencari-cari kesalahan.


Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah cemburu pada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, ia menceritakan sendiri bahwa pada suatu malam Rasulullah pergi dari sisinya. Ia berkata, 

“Aku mencemburuinya karena jangan-jangan beliau mendatangi salah satu istrinya. Lalu datanglah beliau dan melihat keadaanku. 

Rasulullah bersabda, “Apakah engkau cemburu?” 

Jawabku, “Apakah orang sepertiku tidak pantas untuk cemburu terhadap orang sepertimu?” 

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh setanmu telah datang”. (HR Muslim dan Nasa’i)


Aisyah radhiyallรขhu ‘anha juga pernah berkata, “Aku tidak melihat yang pandai memasak seperti Shafiyah. Ia memasak makanan untuk Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam saat beliau ada dirumahku. 

Timbullah rasa cemburuku, aku merebut piring yang berisi makanan tersebut dan membantingnya sampai pecah. Tetapi aku menyesal, lalu berkata, “Ya Rasulullah, apa kifarat bagi perbuatan yang telah aku lakukan?” 

Nabi shallallรขhu alaihi wa sallam menjawab, “Gantilah piring itu dengan piring yang serupa, demikian pula makanannya.” 

(HR Abu Dawud dan Nasa’i)


9⃣  Mengajak Istri Bermusyawarah


Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengajak istri-istrinya bermusyawarah dalam banyak urusan. Beliau sangat menghargai pendapat-pendapat mereka. 

Padahal wanita pada masa jahiliyah, sebelum datangnya Islam diperlakukan seperti barang dagangan semata, dijual dan dibeli, tidak dianggap pendapatnya, meskipun itu berkaitan dengan urusan yang langsung dan khusus dengannya.

Islam datang mengangkat martabat wanita, bahwa mereka sejajar dengan laki-laki, kecuali hak kepemimpinan keluarga, berada di tangan laki-laki. 


Allah Azza wa Jalla  berfirman: “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS al Baqarah [2]: 228)


Pendapat dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha pada peristiwa Hudaibiyah, membawa berkah dan keselamatan bagi umat Islam. Ummu Salamah memberi masukan kepada Nabi agar keluar menemui para sahabat tanpa berbicara dengan siapa pun, langsung menyembelih hadyu atau seekor domba dan mencukur rambutnya. Ketika beliau melaksanakan hal itu, para sahabat dengan serta-merta menjalankan perintah Nabi shallallahu alaihi wa sallam, padahal sebelumnya mereka tidak mau melaksanakan perintah Rasul, karena mereka merasa pada pihak yang kalah pada peristiwa itu. Mereka melihat bahwa syarat yang diajukan kaum kafir Quraisy tidak menguntungkan kaum muslimin.


๐Ÿ”Ÿ Bercanda dengan Istri

Bercanda dengan istri akan memupuk rasa kasih sayang terhadap istri dan keluarga, disamping itu juga bercanda akan melepaskan rasa penat ketika selesai bekerja di luar rumah. 

Dengan bercanda kita akan sangat mudah tersenyum dan ketawa. Namun tidaklah ketawa berlebihan karena hal itu akan membawa mudharat.

Canda Rasulullah bersama istri dan keluarganya dilakukan saat sedang melakukan perjalanan dan saat sedang berada di rumahnya. 


Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan, bahwa pernah ia bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan. Maka aku mengajak Beliau lomba lari dan aku berhasil mendahului beliau dengan kedua kakiku. Ketika aku menjadi gemuk, aku mengajak Beliau lomba lari lagi. Akhirnya Beliau berhasil mengalahkan aku dan bersabda, “Ini sebagai balasan atas perlombaan yang dulu itu."
(HR Abu Dawud)


Masya Allah...

Indahnya suasana rumah teladan kita Rasulullah shallahu alaihi wa sallam. Semoga kita bisa membangun kemesraan dan romantisme di dalam rumah kita, hingga keluarga yang harmonis bukan hanya potret dan mimpi.


๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน


๐ŸŒผDipersembahkan oleh grup WA - MANIS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar