Rabu, 02 Desember 2015

TRAKTIRAN DIAM-DIAM

TRAKTIRAN DIAM-DIAM...

Pernah waktu itu saya sedang makan di sebuah rumah makan di daerah Demangan Jogja. Pengunjung ramai sekali, sambil menunggu pesanan saya lihat sekeliling, eh ada kawan saya.. mbak Dosen Ekonomi UGM itu melambaikan tangan. Saya mendekati mejanya, ngobrol sebentar, terus kami malanjutkan makan di meja masing-masing. Dia pamit duluan, saya masih menyelesaikan sesuatu sampai 15 menit kemudian saya menuju kasir untuk membayar, ketika saya sudah mengeluarkan uang, kasir di depan saya ngomong:
"Sudah dibayar mas oleh mbak yang duduk di meja sana tadi..."
Saya bengong, rejeki nomploxx!! Sorenya ketika saya SMS dia mengucapkan terima kasih untuk traktirannya, dia hanya membalas singkat..
"Hehe.. Aku belum pernah nraktir dirimu kan mas.."

Lain hari saya dengan istri sedang makan di sebuah rumah makan ramai di Jalan Kaliurang Jogja, ketika masuk lewat di antara meja-meja itu, laah ketemu sama kawan saya juga, suami istri pemilik bisnis rumah makan di seantero Jogja. Kami ngobrol sebentar lalu berpisah meja. Setengah jam berlalu mereka pamit, melambaikan tangan dari jauh. Giliran kami selesai, melangkah menuju kasir di dekat pintu keluar.
"Berapa mbak? Meja nomor 17.."
"Sudah dibayar pak oleh ibu yang duduk disini tadi dengan suami dan anaknya.."
"Ooooh... Yayaya trims ya!"
Istri saya yang gantian bengong.
Ketika saya BBM waktu itu untuk mengucapkan terimakasih, jawabannya nyaris sama: "sekali-kali nraktir dirimu mas, hehe.."

Kawan saya tinggal di Sragen, pernah bangkrut dengan hutang 6 milyar berbisnis restoran ayam goreng di Bogor. Dia memilih pulang kampung, memulai bisnisnya lagi dari sebuah warung yang kecil. Orang ini pun unik, punya kebiasaan dalam seminggu bisa 3 hari membagi-bagikan nasi bungkus di pagi hari. 40 bungkus sampai 100 bungkus dia masak sendiri, terus dia berkeliling di pagi hari mencari tukang becak, tukang sampah, bakul pasar, simbok-simbok yang ada dipinggir jalan, bahkan pengemis dan orang gila dia bagi semua..
Waktu berlalu, 5 tahun kemudian usahanya bangkit kembali. Warungnya menjelma menjadi restoran di beberapa tempat bahkan di luar kota. Ramainya luar biasa..

Merekalah orang-orang kaya sesungguhnya, mereka memberi tanpa perlu basa-basi, action tanpa perlu banyak mikir, berbagi tanpa perlu ngitung sana-sini..

Sebuah kebaikan pasti Allah balas dengan kebaikan, Allah yang akan mengatur jalannya hingga kebaikan itu kembali kepada kita..

Kita tidak pernah tau, dari mulut siapa doa kita dikabulkan. Saya membayangkan orang-orang yang lapar di pagi hari itu pasti sangat bersyukur mendapatkan makanan yang akan jadi tenaga menjalani hari itu.. Pengobat sakit perut yang melilit..

Dari mulut mereka ada doa-doa yang terucap sederhana: "ya Allah, balaskan rejeki orang yang memberikan makan padaku pagi ini.. Berilah kesehatan, panjangkan umurnya, mudahkan semua urusannya.."
Atau jika doa itupun di dalam hati, Allah tetap mengetahui..

Bayangkan, ada 40 orang bahkan 100 orang yang mendoakannya pagi itu, membuat pintu langit terbuka dengan ketukan doa-doa, lalu Allah menaburinya dengan rahmat dan keberkahan dalam hidupnya..
Allah kirimkan malaikat untuk mengawalnya.. Menjaganya dari keburukan, kecelakaan, kesulitan..

Ambil kaca.. Bagaimana dengan kita?
Mungkin kita masuk golongan orang yang medit dan pelit? Ketika makan bersama kawan-kawan memilih mengeluarkan dompet belakangan, sambil melirik kiri kanan, berharap ada yang duluan membayarkan.. Hehe
Ketika ada yang membayari, dalam hati langsung teriak... "Yesss!!! Ngirit lagi!!"
sekali berhasil, berikutnya terulangi, jadi kebiasaan tiap makan bareng, punya uang tapi mendadak kere, sepertinya dompet dipasang lem disaku belakang..

Ada juga yang lapar dan berburu makan gratisan. Cukup bermodal baju batik, dan amplop kosong, menyelinap diantara tamu resepsi pernikahan. Cukup mengisi nama abal-abal di buku tamu, senyum sedikit kesana-sini, masuk dan berbaur dengan para tamu, semua makanan harus diserbu. Aah tak perlu lah salaman dengan pengantin itu, toh mereka juga tidak tau..

Ayooo kita ambil kaca lagi, aaah.. Saya termasuk golongan yang mana yaaa?
Saya bermental kaya? Atau saya ternyata masih mental miskin seutuhnya..

Salam,
@Saptuari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar